code4769

Cara Umar bin Abdul Azis Mendidik Putranya

 Islami  Comments Off on Cara Umar bin Abdul Azis Mendidik Putranya
May 132011
 

Dalam keletihan perjalanan dan kehabisan bekal makanan, Nabi Musa as bersama Khidhir singgah di sebuah perkampungan. Tapi tidak ada seorang pun di kampung itu yang berkenan menerimanya sebagai tamu yang berhak dijamu dan dihormati. Penduduk kampung pelit dan tidak mau memberi.

Oleh: Muhith Muhammad Ishaq

Dalam perjalanan, keduanya mendapati sebuah tembok miring yang hampir roboh. Nabi Musa dan Khidir merenovasi tembok miring itu hingga kembali berdiri kokoh. Nabi Musa sempat mengusulkan, “Jika kamu mau, niscaya kamu bisa mengambil upah untuk itu”.

Pernyataan Nabi Musa menjadi batas perjanjian dan perpisahan keduanya. Namun sebelum keduanya berpisah, Khidhir menjelaskan pengalaman perjalanannya kepada Nabi Musa, hingga pada kisah tembok yang di kampung pelit itu.

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Sedang ayahnya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya,” (QS 18:82)

Dalam salah satu episode kisah Nabi Musa bersama orang shalih yang sering disebut Khidhir dalam surah al-Kahfi (QS.18) di atas, terdapat fragmen kisah yang menginspirasi para orangtua dalam menjaga masa depan anak-anaknya.

Continue reading »

Malu, Akar Semua Kebaikan

 Islami  Comments Off on Malu, Akar Semua Kebaikan
May 132011
 

Maraknya KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dan segala macam pelanggaran hukum—baik hukum Tuhan maupun manusia—di negeri ini, tak lepas dari hilangnya budaya malu.

Manusia tak segan lagi melakukan penyelewengan dan melanggar larangan Allah. Mereka tenggelam dalam kubangan maksiat karena rasa malu dalam jiwanya telah tercerabut.

Benarlah perkataan para nabi terdahulu, “Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah semaumu!”

Akhirnya penguasa berbuat semaunya dalam mengangkangi rakyatnya, pun rakyat berbuat semaunya dalam menjerumuskan sesamanya.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah, dalam al-Jawab al-Kafi Liman Sa’ala an-Dawa’ as-Syafi mengatakan, rasa malu adalah akar dari segala kebaikan. Jika hilang, maka hilanglah segala kebaikan.

Continue reading »

Tawadhu

 Islami  Comments Off on Tawadhu
May 132011
 

Allah Maha Mulia dan menghendaki agar hamba-hamba-Nya menjadi orang-orang yang mulia, bahwa luasnya kemuliaan mereka tidak merasa lebih tinggi di atas saudara-saudara mereka. Maka saat itu ia merasa bangga terhadap diri sendiri, merasa di atas yang lain, dan merendahkan kedudukan mereka. Dan Allah memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan memberi petunjuk untuk beriman. Maka jika mereka enggan dan memilih kesesatan, maka Dia Maha Kuasa mengganti mereka dengan satu kaum yang mulia dengan iman mereka dan merendahkan diri terhadap saudara-saudara mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela….” (QS. al-Ma`idah:54)

Maka inilah sifat lemah-lembut terhadap orang-orang beriman yang merupakan sifat orang-orang terpilih untuk membawa agama ini, saat murtadnya orang-orang yang murtad darinya. Ayat di atas maksudnya santun kepada orang-orang beriman, kasih sayang dan lemah lembut terhadap mereka dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan memusuhi mereka. Ibnu Abbas berkata: ‘Sikap mereka terhadap orang-orang beriman seperti seorang ayah terhadap anak dan majikan terhadap budak, dan sikap mereka terhadap orang-orang kafir seperti binatang buas terhadap mangsanya. Firman Allah, “(Mereka) keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka… (QS. al-Fath:29)”. Mulia adalah sifat yang terpuji, sedangkan sombong terhadap orang lain dan membanggakan diri (‘ujub) adalah sifat tercela. Allah berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya…. (QS. Fathir:10)”. Dan sesungguhnya Allah memuliakan wali-wali-Nya dengannya, sekalipun mereka berada di puncak cobaan (musibah,bala). “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. al-Munafiqun:8)”
Continue reading »

Dua Sisi Kehidupan

 Islami  Comments Off on Dua Sisi Kehidupan
May 132011
 

Segala hal dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan ketika ia berpasang-pasangan. Ada baik, ada buruk. Ada besar, ada kecil. Ada cepat, ada lambat. Semuanya Allah ciptakan sedemikian rupa sehingga ia berpasang-pasangan. Segalanya tentu terjadi dalam kesetimbangan dan keseimbangan. Dan adalah kehendak Allah yang menciptakan semuanya seperti demikian.

Pada manusia, pun terjadi demikian. Ianya pun diciptakan berpasang-pasangan. Berpasangan dari segi jenis, sifat, perilaku, karakter, dan sebagainya. Dan itu tersebar ke seluruh manusia di dunia ini. Hal ini pun terjadi pada individu manusia. Ia memiliki dua potensi dalam kehidupannya. Ia memiliki dua sisi kehidupan. Dua sisi kehidupan ini ibarat seperti dua sisi koin. Sisi yang satu akan senantiasa menutupi yang lain ketika sisi yang satu tampak, begitu pula sebaliknya. Begitu pula dengan manusia, ia memiliki dua potensi. Potensi kebaikan dan potensi keburukan.

Sebagaimana telah Allah firmankan dalam surah Asy-Syams ayat 8 yang berbunyi “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” Jadi sejatinya tiap-tiap diri itu sudah memiliki dua potensi dalam dirinya. Potensi tersebut adalah kefasikan atau hal-hal yang identik dengan keburukan dan juga potensi ketakwaan yang identik dengan kebaikan dan segala sesuatu yang diridhoi oleh-Nya.

Continue reading »

Sejarah dan Catatan Nabi-Nabi Palsu

 Islami  Comments Off on Sejarah dan Catatan Nabi-Nabi Palsu
May 132011
 

DALAM akidah Islam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah penutup para nabi. Ini sesuai dengan firman-Nya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Ahzab [33]: 40). Sementara Islam, ajaran yang dibawa Muhammad SAW merupakan dien yang telah disempurnakan.

Namun, masih ada saja manusia yang mengaku sebagai nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) setelah Muhammad SAW untuk menyempurnakan ajaran-Nya. Bahkan, sebelum Muhammad SAW wafat pun sudah ada yang mengaku sebagai nabi. Jumlah mereka banyak. Berikut di antara para nabi palsu itu.

1. Musailamah al-Kazzab dan Sajjah Binti al-Harits

Musailamah mengaku nabi saat Rasulullah SAW masih hidup. Ia dari Bani Hanifah di Yamamah. Istrinya, Sajjah binti al-Harits dari Bani Tamim, juga mengaku sebagai nabi yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan kepada umat.

Dalam riwayat, saat mempersunting Sajjah, Musailamah memberikan mas kawin berupa cuti shalat Ashar kepada keluarga Sajjah. Tentu saja saat itu seluruh Bani Tamim libur shalat Ashar.

Setelah Rasulullah SAW wafat, mereka semakin leluasa dalam menyebarkan pemahamannya. Khalifah Abu Bakar Assidiq tidak tinggal diam. Abu Bakar beserta kaum Muslimin mengajak mereka dan pengikutnya kembali ke jalan yang lurus. Tapi, ajakan itu ditolak.

Abu Bakar mengerahkan kaum Muslimin untuk memerangi mereka. Dalam perang Yarmuk, Kaum Muslimin bentrok dengan pasukan Musailamah dan Musailamah berhasil dibunuh oleh Wahsyi bin Harb. Sedang Sajjah diakhir hayatnya bertaubat dan kembali ke pelukan Islam.
Continue reading »